iDRG Adalah: Panduan Lengkap untuk Koder Medis
Apa itu iDRG, apa bedanya dengan INA-CBG, dan apa yang berubah untuk koder? Panduan struktur kode, MDC, dan Complexity Level digit ke-7.
Ringkasan singkat
iDRG adalah singkatan dari Indonesian Diagnosis Related Group, sistem yang mengelompokkan kasus menurut kemiripan klinisnya — diagnosis, pengobatan, dan/atau prosedur — atau menurut kemiripan pemakaian sumber dayanya, yang dikembangkan Kementerian Kesehatan RI sebagai mekanisme pembayaran berbasis paket untuk program JKN.
Sejak Oktober 2025 iDRG menjalani uji coba nasional di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan tingkat lanjut yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan (SE Menteri Kesehatan Nomor HK.02.02/MENKES/936/2025); selama uji coba, besaran klaim tetap mengacu tarif INA-CBG menurut PMK No. 3 Tahun 2023.
Kode iDRG terdiri dari tujuh digit: MDC (digit ke-1 dan ke-2), treatment partition (ke-3 dan ke-4), split (ke-5), jenis layanan rawat inap atau rawat jalan (ke-6), dan Complexity Level (ke-7). ICS mencatat 28 MDC termasuk Pre-MDC, sedangkan INA-CBG memakai 29 CMG menurut PMK No. 26 Tahun 2021.
Complexity Level pada digit ke-7 bernilai 0 sampai 4, dan 9 untuk merge (ICS Tabel 4), dihitung dari indeks PCCL berdasarkan ada tidaknya komplikasi dan komorbiditas pada diagnosis sekunder — sumbu yang berbeda dari Severity Level INA-CBG.
Untuk koder, dampak paling nyata bukan pada aplikasi yang dipakai, melainkan pada seberapa lengkap diagnosis sekunder tertulis di rekam medis oleh DPJP.
Ketika nama iDRG disebut di rapat Casemix, pertanyaan pertama yang wajar bukan soal kebijakan — melainkan apa yang berubah di meja Anda besok pagi. Artikel ini menjawabnya dari sudut pandang orang yang mengetik kode. Setiap angka di sini disertai dokumen sumbernya, dan yang belum punya dokumen disebut apa adanya.
Apa itu iDRG dan mengapa sistem pembayaran JKN diubah?
iDRG adalah Indonesian Diagnosis Related Group: menurut ICS, sistem yang mengelompokkan kasus menurut kemiripan klinisnya — diagnosis, pengobatan, dan/atau prosedur — atau menurut kemiripan pemakaian sumber dayanya. Fungsinya sama dengan INA-CBG yang dipakai program JKN selama ini: satu episode perawatan dikelompokkan, lalu kelompok itu menjadi dasar pembayaran paket. Alasan perubahannya dinyatakan SE Menteri Kesehatan Nomor HK.02.02/MENKES/936/2025: iDRG dikembangkan Kementerian Kesehatan bersama fasilitas pelayanan kesehatan, organisasi profesi, BPJS Kesehatan, dan para pakar sebagai mekanisme pembayaran berbasis paket yang lebih efisien dan transparan, untuk mendorong peningkatan mutu sekaligus pengendalian biaya pelayanan kesehatan. SE yang sama menyebut uji coba nasional diperlukan untuk mengetahui kebutuhan transformasi sistem pembiayaan, dan hasilnya menjadi dasar ilmiah dan teknis untuk menetapkan sistem pembayaran berikutnya. Artinya, iDRG hari ini adalah sistem yang sedang diuji di seluruh rumah sakit mitra BPJS Kesehatan — belum sistem yang menggantikan tarif INA-CBG.
Apa perbedaan iDRG dan INA-CBG?
Perbedaan iDRG dan INA-CBG terletak pada empat hal: pengelompokan besar (28 MDC berbanding 29 CMG), struktur kode (tujuh digit numerik berbanding empat komponen bertanda hubung), cara membaca kompleksitas kasus (Complexity Level pada digit ke-7 berbanding Severity Level), dan kamus kode yang dipakai. Angka di tabel diambil dari dokumen yang disebut di tiap barisnya: ICS untuk iDRG, PMK No. 26 Tahun 2021 dan PMK No. 3 Tahun 2023 untuk INA-CBG, dan SE Nomor HK.02.02/MENKES/936/2025 untuk statusnya. Satu hal perlu digarisbawahi sejak awal: perubahan ini tidak mengubah pekerjaan dasar koder. Anda tetap membaca resume medis, tetap menegakkan diagnosis utama sesuai kaidah, tetap memilih diagnosis sekunder yang benar-benar terdokumentasi. Yang berubah adalah jalur yang dilalui satu diagnosis sekunder sampai ke kode akhir: Complexity Level punya lima tingkat ditambah merge, sedangkan Severity Level rawat inap punya tiga. Tabel di bawah merangkum perbedaannya berdampingan, dan tiap barisnya bisa Anda bawa sebagai bahan diskusi ke tim Casemix.
| Aspek | INA-CBG | iDRG |
|---|---|---|
| Status | Dasar pembayaran klaim JKN; tarifnya menurut PMK No. 3 Tahun 2023 | Uji coba nasional sejak Oktober 2025 di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan tingkat lanjut mitra BPJS Kesehatan; besaran klaim tetap tarif INA-CBG (SE Nomor HK.02.02/MENKES/936/2025) |
| Jumlah grup | 1.075 kode grup bertarif di lampiran PMK No. 3 Tahun 2023 | Belum tercantum di dokumen yang menjadi rujukan artikel ini; tarif iDRG belum dipakai membayar klaim |
| Pengelompokan besar | 29 CMG (Casemix Main Groups) — PMK No. 26 Tahun 2021 | 28 MDC (Major Diagnostic Category) termasuk Pre-MDC — ICS Bab I |
| Sumbu kompleksitas | Severity Level — dipengaruhi komorbiditas dan komplikasi dalam masa perawatan | Complexity Level pada digit ke-7 — dihitung dari indeks PCCL berdasarkan ada tidaknya komplikasi dan komorbiditas (CC) pada diagnosis sekunder |
| Jumlah tingkat | "0" untuk rawat jalan; I, II, dan III untuk rawat inap | 0 sampai 4, dan 9 untuk merge (ICS Tabel 4) |
| Format kode | Empat komponen bertanda hubung, mengikuti pola I-4-10-I | Tujuh digit numerik tanpa pemisah, mengikuti pola 1105110 |
| Jenis layanan | Dibedakan lewat Case Group: prosedur dan bukan prosedur, rawat inap dan rawat jalan, kebidanan, neonatal | Digit ke-6 (Patient Type Designation): 1 rawat inap, 2 rawat jalan |
| Kamus kode | ICD-10 dan ICD-9-CM | ICD-10 dan ICD-9-CM Versi 2010 beserta kode tambahan Indonesian Modification (IM): 1.126 kode ICD-10 IM dan 769 kode ICD-9-CM IM di daftar modifikasinya |
Berapa jumlah grup iDRG dan apa artinya bagi koder?
Jumlah grup iDRG belum tercantum di dokumen yang menjadi rujukan artikel ini — ICS dan SE Nomor HK.02.02/MENKES/936/2025 — jadi kami tidak menuliskan angkanya; angka yang beredar tanpa dokumen tidak layak dibawa sebagai dasar. Yang ditetapkan ICS adalah cara grup itu dibentuk. Digit ke-1 dan ke-2 menunjukkan MDC. Digit ke-3 dan ke-4 menunjukkan treatment partition: 01–40 surgical, 41–60 non surgical, 61–99 medical. Digit ke-5 adalah split, kode 1–9 yang membedakan diagnosis atau prosedur, usia, jenis kelamin, cara pulang, dan lama hari perawatan. Digit ke-6 menunjukkan jenis layanan, dan digit ke-7 Complexity Level. MDC dan partition membentuk Base DC; ditambah split, terbentuk Disease Cluster (DC). Konsekuensinya praktis: data yang selama ini dianggap detail — usia, cara pulang, lama rawat, prosedur — punya tempat sendiri di kode. Kelengkapan dokumentasi karenanya berpindah status, dari "baik bila ada" menjadi penentu digit yang terbentuk.
Grouper yang lebih granular tidak menghukum koder yang teliti. Ia hanya berhenti memaafkan rekam medis yang tidak lengkap.
Apa itu Complexity Level pada digit ke-7 kode iDRG?
Complexity Level adalah digit terakhir kode iDRG. Menurut ICS, nilainya mencerminkan apakah kasus disertai komplikasi dan komorbiditas (CC) dari diagnosis sekundernya, dan dihitung dengan indeks PCCL (Patient Clinical Complexity Level). ICS Tabel 4 menetapkan nilainya: 0 untuk tanpa CC, 1 CC ringan, 2 CC sedang, 3 CC berat, 4 CC katastropik, dan 9 untuk Merge CC (tanpa Complexity Level). ICS juga menerangkan dasar pemisahannya: CART (Classification and Regression Trees), metode analisis yang mencari perbedaan biaya bermakna antartingkat CC. Nilainya ditetapkan grouper E-Klaim dari kode yang Anda masukkan, bukan dipilih koder. Karena itu mekanismenya lebih penting daripada hafalan angkanya: Complexity Level (digit ke-7) naik karena kondisi yang benar-benar ditulis dokter di rekam medis dan memengaruhi perawatan, bukan karena koder menambah kode. Menaikkan digit ke-7 tanpa dasar rekam medis adalah upcoding, dan itu justru mengundang audit pasca-klaim.
Apa bedanya Severity Level dan Complexity Level (digit ke-7)?
Severity Level dan Complexity Level (digit ke-7) bekerja pada sumbu yang berbeda, dan keduanya rutin tertukar di lapangan. Severity Level adalah istilah INA-CBG: PMK No. 26 Tahun 2021 menyebutnya sub-group keempat kode INA-CBG, yang menggambarkan tingkat keparahan kasus yang dipengaruhi komorbiditas ataupun komplikasi dalam masa perawatan — "0" untuk rawat jalan, I (ringan) tanpa komplikasi maupun komorbiditas, II (sedang) dengan komplikasi dan komorbiditas ringan, III (berat) dengan komplikasi dan komorbiditas mayor. PMK yang sama menegaskan bahwa ringan, sedang, dan berat di sana tidak menggambarkan kondisi klinis pasien. Complexity Level (digit ke-7) adalah istilah iDRG: dihitung dari indeks PCCL dengan nilai 0 sampai 4 dan 9. ICS menempatkan perbedaan usia, jenis kelamin, cara pulang, dan lama rawat di digit ke-5 (split), sedangkan Complexity Level dihitung dari komplikasi dan komorbiditas pada diagnosis sekunder. Dalam Dispute, mencampur dua istilah ini melemahkan posisi Anda. Tulis keduanya lengkap, dan sertakan keterangan "digit ke-7" setiap kali Anda menyebut Complexity Level.
Ilustrasi: PPOK dengan infeksi dan diagnosis sekunder — apa yang dibaca Severity Level dan Complexity Level (digit ke-7)
- Pasien
- Laki-laki 68 tahun, rawat inap 6 hari, pulang atas persetujuan DPJP
- Diagnosis utama
J44.0— penyakit paru obstruktif kronik dengan infeksi saluran napas bawah akut- Diagnosis sekunder
J18.9— pneumonia tidak spesifik- Diagnosis sekunder lain yang terdokumentasi
N17.9gagal ginjal akut, tidak spesifik;E11.9diabetes melitus tidak tergantung insulin tanpa komplikasi- Prosedur
93.94— pemberian obat respirasi dengan nebulizer- Status ilustrasi
- Rekonstruksi redaksi. Bukan keluaran Grouper resmi — kode grup dan tingkatnya sengaja tidak dicantumkan agar tidak terbaca sebagai hasil grouping.
Pada INA-CBG, PMK No. 26 Tahun 2021 menyebut Severity Level dipengaruhi komorbiditas dan komplikasi: diagnosis sekunder seperti N17.9 dan E11.9 ikut dibaca, dan grouper E-Klaim yang menetapkan tingkatnya — I, II, atau III. Ilustrasi ini sengaja tidak menebak tingkat itu.
Pada iDRG, diagnosis sekunder yang sama masuk perhitungan indeks PCCL yang menghasilkan Complexity Level (digit ke-7). Usia 68 tahun, cara pulang, dan lama rawat 6 hari dibaca di tempat lain — digit ke-5 (split), bila Disease Cluster kasus ini memang dipecah menurut faktor itu. Dua kasus dengan Severity Level sama karenanya bisa berakhir pada kode iDRG berbeda.
Titik rawannya ada pada N17.9. Bila rekam medis hanya menulis "ureum dan kreatinin meningkat" tanpa DPJP menegakkan diagnosis gagal ginjal akut, kode itu tidak boleh dipasang — ICS tidak membenarkan pengode menambah diagnosis komorbiditas atau komplikasi hanya dari hasil laboratorium bila dokter tidak menuliskannya. Yang benar bukan menaikkan kode, melainkan mengajukan klarifikasi dan menunggu jawabannya masuk ke rekam medis; selisih Complexity Level (digit ke-7) tanpa dasar dokumentasi adalah selisih yang Anda pertanggungjawabkan sendiri saat audit pasca-klaim datang.
Apa itu MDC, dan apa bedanya dengan CMG di INA-CBG?
MDC adalah Major Diagnostic Category: menurut ICS, kelompok diagnosis menurut sistem organ atau penyebab penyakitnya, yang lazim berkaitan dengan satu spesialisasi dan menjadi alasan utama perawatan. MDC menempati dua digit pertama kode iDRG, dan ICS mencatat 28 MDC: kode 10 untuk Pre-MDC — kasus dengan tingkat spesialisasi tinggi yang memerlukan biaya besar —, kode 11 sampai 35 untuk sistem organ dan kelompok kasus seperti kehamilan dan persalinan (24) atau luka bakar (32), kode 36 untuk Ungroupable or Unrelated, dan kode 90 untuk Diagnostic Procedures. Padanannya di INA-CBG adalah CMG (Casemix Main Groups): PMK No. 26 Tahun 2021 menyebut 29 CMG, dilabeli huruf dan disesuaikan dengan ICD-10 Versi Tahun 2010 untuk setiap sistem organ. Untuk koder, kesimpulannya tidak berubah: kaidah pemilihan diagnosis utama tetap fondasi. ICS mendefinisikan diagnosis utama sebagai diagnosis akhir yang ditetapkan dokter pada akhir episode perawatan, dan tidak ada kecanggihan Grouper yang bisa menutupi kekeliruan di langkah pertama itu.
Apa itu ICD-10-IM dan ICD-9-CM-IM, dan kenapa koder harus memakainya?
ICD-10-IM dan ICD-9-CM-IM adalah versi Indonesian Modification (IM) dari ICD-10 dan ICD-9-CM Versi 2010 — kode tambahan yang disusun Kementerian Kesehatan RI untuk kebutuhan pencatatan dan pembayaran di Indonesia. SE Nomor HK.02.02/MENKES/936/2025 meminta rumah sakit peserta uji coba menerapkan ICD-10 dan ICD-9-CM Versi 2010 yang terdapat dalam draf kode tambahan IM, bersama pedoman pengodean dalam draf ICS. Daftar modifikasi yang dimuat KoderMedis — List Modifikasi ICD-10 Terbaru dan List Modifikasi ICD-9-CM Terbaru — berisi 1.126 kode ICD-10 IM dan 769 kode ICD-9-CM IM. Bedanya dengan versi WHO bukan sekadar tambahan kode, melainkan kaidah pemakaian: lateralisasi, tingkat kekhususan yang diwajibkan, dan pasangan kode yang harus lengkap — tindakan yang wajib berpasangan tetapi hanya ditulis salah satu membuat berkas jatuh ke kelompok ungroupable. Bila Anda belum menelusurinya, mulailah dari perbedaan ICD-10-IM dan ICD-10 WHO untuk koder. Semakin rinci Grouper-nya, semakin mahal harga satu kode yang kurang spesifik: kode yang sekadar cukup benar bisa mendarat di grup berbeda dari kode yang spesifik. Karena itu kaidah IM mendahului struktur grup.
Kapan iDRG mulai berlaku, dan di mana uji cobanya?
Uji coba nasional penerapan iDRG dimulai sejak Oktober 2025 di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan tingkat lanjut yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan — bukan di sejumlah kota tertentu. Dasarnya SE Menteri Kesehatan Nomor HK.02.02/MENKES/936/2025, ditetapkan 30 September 2025. Selama uji coba, rumah sakit menyesuaikan sistem informasinya dan memperbarui aplikasi E-Klaim ke versi 5.10.5, menerapkan pedoman pengodean dalam draf ICS serta draf kode tambahan ICD-10 dan ICD-9-CM IM, dan menginput data uji coba untuk pasien yang pulang sejak Oktober 2025. Yang tidak berubah adalah pembayarannya: SE yang sama meminta rumah sakit memastikan besaran klaim tetap mengacu tarif INA-CBG menurut PMK No. 3 Tahun 2023. Kapan iDRG menggantikan INA-CBG sebagai dasar pembayaran belum ditetapkan di dokumen yang menjadi rujukan artikel ini; SE itu sendiri menyebut hasil uji coba sebagai dasar menetapkan sistem pembayaran berikutnya. Bila Anda mendengar tanggal pemberlakuan, minta dokumennya: koder yang membawa nomor yang tidak bisa ditelusuri ke meja Verifikator berada dalam posisi jauh lebih buruk daripada koder yang berkata "dasarnya belum saya pegang".
Bagaimana iDRG memengaruhi tarif klaim rumah sakit?
Selama uji coba nasional, iDRG belum mengubah tarif klaim: SE Nomor HK.02.02/MENKES/936/2025 menegaskan besaran klaim tetap mengacu tarif INA-CBG menurut PMK No. 3 Tahun 2023. Data uji coba dipakai menilai sistemnya, bukan membayar berkas Anda. Untuk masa sesudahnya, belum ada peraturan yang menetapkan tarif iDRG di dokumen yang menjadi rujukan artikel ini — yang ada baru materi sosialisasi konsep tarifnya —, jadi kami tidak menuliskan perkiraan besaran per grup. Yang bisa dikatakan dari struktur kodenya: karena split membaca usia, cara pulang, dan lama rawat, sementara Complexity Level membaca komplikasi dan komorbiditas, dua kasus yang hari ini jatuh ke kelompok INA-CBG yang sama bisa terpisah di kode iDRG — dan arahnya ditentukan bukti di rekam medis, bukan oleh sistemnya. Besaran final selalu ditetapkan Grouper resmi pada E-Klaim; angka apa pun yang dihitung di luar itu, dengan alat bantu mana pun, bersifat perkiraan. Yang paling menggerus arus kas rumah sakit tetap pending claim: berkas yang tertahan tidak menghasilkan apa pun sampai selesai diproses.
Kesalahan apa yang paling sering muncul saat koder mulai memakai iDRG?
Kesalahan yang paling sering muncul bukan kesalahan teknis aplikasi, melainkan kebiasaan lama yang dibawa ke sistem dengan resolusi berbeda. Polanya berulang pada berkas berstatus ungroupable dan pada Dispute: diagnosis sekunder yang tidak ditulis karena dianggap sudah jelas dari hasil laboratorium, lateralisasi yang dilewat, prosedur bilateral yang dicatat sebagai satu tindakan, dan diagnosis utama yang dipilih mengikuti urutan penulisan DPJP alih-alih kaidah. Semua ini sudah menjadi masalah di era INA-CBG; iDRG hanya membuat konsekuensinya lebih cepat terlihat. Daftar berikut menyusun pola yang paling sering muncul dalam pembahasan koder di lapangan, dan uraian per pola beserta pencegahannya ada pada 12 penyebab klaim pending yang paling sering terjadi. Catatan penting soal cara membacanya: tidak satu pun butir di bawah bisa diselesaikan dengan menambah kode. Semuanya diselesaikan dengan melengkapi dokumentasi, memperbaiki urutan, atau mengajukan klarifikasi tertulis ke DPJP.
- Diagnosis sekunder tidak tertulis. Nilai laboratorium yang menyimpang bukan diagnosis — ajukan klarifikasi, jangan menambah kode.
- Severity Level dan Complexity Level (digit ke-7) tertukar. Dua sumbu berbeda dipakai bergantian dalam satu argumen, dan argumennya runtuh sebelum sampai ke substansi.
- Lateralisasi dilewat. Kaidah ICD-10-IM menuntut kode penyerta kiri, kanan, atau bilateral pada diagnosis organ berpasangan; tanpa itu sisi organ tidak terbaca dari berkas.
- Prosedur bilateral atau berulang dicatat sebagai satu tindakan. Kaidah multiplicity ICD-9-CM-IM sering baru diperiksa setelah berkas kembali.
- Diagnosis utama mengikuti urutan tulisan DPJP. Diagnosis utama adalah kondisi yang paling banyak menghabiskan sumber daya perawatan, bukan yang kebetulan tertulis paling atas.
- Pasangan dagger–asterisk tidak lengkap. Di kamus kode iDRG, kode manifestasi (asterisk) bertanda tidak layak sebagai diagnosis utama; ia hanya sah bersama kode kondisi penyebabnya.
- Koreksi berkas tanpa jejak. Tanpa catatan versi aturan dan alasannya, Anda kehilangan bahan pembelaan saat audit menanyakan berkas enam bulan lalu.
Bagaimana cara koder bersiap menghadapi iDRG sekarang?
Persiapan paling berdampak justru bukan menghafal struktur kode iDRG, melainkan merapikan hal-hal yang sudah menjadi masalah hari ini. Alasannya lugas: Grouper yang lebih granular tidak menciptakan masalah baru, ia memperbesar masalah dokumentasi yang sudah ada. Koder yang berkasnya rapi pada INA-CBG akan merasakan transisi ini sebagai penyesuaian; koder yang hari ini sering menerima berkas kembali akan menerimanya lebih sering. Tiga hal bisa Anda kerjakan tanpa menunggu regulasi terbit: kuasai kaidah pemilihan diagnosis utama sampai bisa Anda jelaskan ke DPJP dalam satu kalimat, biasakan mencatat dasar setiap keputusan koding, dan bangun jalur klarifikasi tertulis ke DPJP yang tidak bergantung pada kebetulan berpapasan di koridor. Sisi kompetensi dan jenjang kariernya dibahas terpisah pada skill koder medis yang menentukan di era iDRG. Enam langkah di bawah disusun menurut urutan yang paling cepat terasa hasilnya di meja kerja.
- Uji ulang kaidah diagnosis utama. Ambil sepuluh berkas lama: masih bisakah pilihan Anda dipertahankan dengan dasar tertulis?
- Catat dasar setiap keputusan. Simpan kode, aturan yang dipakai, dan tanggal versi aturannya. Ini bahan Berita Acara Anda nanti.
- Perkuat jalur klarifikasi ke DPJP. Formulir klarifikasi singkat yang ditandatangani lebih berguna daripada percakapan lisan yang tidak masuk rekam medis.
- Dahulukan kaidah ICD-10-IM dan ICD-9-CM-IM. Kamus dan kaidahnya yang menentukan berkas bisa masuk grouping; struktur grup menyusul.
- Ikuti kanal resmi, bukan tangkapan layar. Kementerian Kesehatan RI, BPJS Kesehatan, DJSN, PERSI, dan PORMIKI bisa Anda kutip; dokumen tanpa asal-usul tidak bisa dibawa ke meja verifikasi.
- Rapatkan koordinasi dengan tim Casemix. Perbedaan tafsir paling murah diselesaikan sebelum berkas final, bukan setelah masuk Dispute.
Catatan penutup soal alat bantu. KoderMedis adalah alat bantu penelusuran administratif Non-SaMD: tidak terhubung ke E-Klaim, VClaim, maupun sistem BPJS Kesehatan mana pun. Sistem menyiapkan kandidat kode beserta rujukannya untuk Anda periksa; Anda sendiri yang menyalin hasilnya ke aplikasi tempat Anda bekerja. Keputusan koding tetap milik Anda — nama Anda yang tercantum pada berkas ketika audit datang.
Oleh: Tim Redaksi KoderMedis — Redaksi konten koding klaim JKN
Disusun dari dokumen publik Kemenkes, BPJS Kesehatan, dan panduan ICD-10-IM/ICD-9-CM-IM
Belum ditinjau koder bersertifikat independen
Artikel ini disusun tim redaksi dari dokumen publik. Untuk kasus yang Anda tangani, verifikasi selalu ke regulasi yang berlaku pada tanggal kasus tersebut. Pemeriksaan redaksi terakhir: 1 Oktober 2026.
Pertanyaan yang sering diajukan
- Apa kepanjangan iDRG?
- iDRG adalah singkatan dari Indonesian Diagnosis Related Group, sistem yang mengelompokkan kasus menurut kemiripan klinisnya — diagnosis, pengobatan, dan/atau prosedur — atau menurut kemiripan pemakaian sumber dayanya, menurut ICS. Sistem ini dikembangkan Kementerian Kesehatan RI sebagai mekanisme pembayaran berbasis paket untuk program JKN. Sejak Oktober 2025 iDRG menjalani uji coba nasional menurut SE Nomor HK.02.02/MENKES/936/2025.
- Apakah iDRG sudah berlaku dan menggantikan INA-CBG?
- Belum sebagai dasar pembayaran. Sejak Oktober 2025 iDRG diuji coba secara nasional di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan tingkat lanjut yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan (SE Nomor HK.02.02/MENKES/936/2025), tetapi SE yang sama meminta besaran klaim tetap mengacu tarif INA-CBG menurut PMK No. 3 Tahun 2023. Kapan iDRG menggantikan INA-CBG belum ditetapkan di dokumen yang menjadi rujukan artikel ini, jadi verifikasi status terbaru ke kanal resmi Kementerian Kesehatan RI dan BPJS Kesehatan sebelum memakainya sebagai dasar.
- Berapa jumlah grup dan MDC pada iDRG?
- ICS mencatat 28 MDC (Major Diagnostic Category): Pre-MDC (kode 10), kode 11 sampai 36, dan kode 90; INA-CBG memakai 29 CMG (Casemix Main Groups) menurut PMK No. 26 Tahun 2021. Jumlah grup iDRG belum tercantum di dokumen yang menjadi rujukan artikel ini, sementara lampiran PMK No. 3 Tahun 2023 memuat tarif untuk 1.075 kode grup INA-CBG. Angka grup iDRG yang beredar tanpa dokumen sebaiknya tidak dipakai sebagai dasar.
- Apa beda Severity Level dan Complexity Level (digit ke-7) pada iDRG?
- Severity Level adalah istilah INA-CBG: menurut PMK No. 26 Tahun 2021, sub-group keempat kode INA-CBG yang dipengaruhi komorbiditas ataupun komplikasi — "0" untuk rawat jalan, I sampai III untuk rawat inap. Complexity Level adalah digit ke-7 kode iDRG yang dihitung dari indeks PCCL berdasarkan ada tidaknya komplikasi dan komorbiditas pada diagnosis sekunder, bernilai 0 sampai 4 dan 9 untuk merge (ICS Tabel 4). Keduanya bekerja pada sumbu berbeda dan tidak boleh dipertukarkan.
- Apa yang perlu disiapkan koder menghadapi iDRG?
- Mulai dari kelengkapan dokumentasi, bukan dari menghafal struktur grup. Grouper yang lebih granular memperbesar konsekuensi diagnosis sekunder yang tidak tertulis, lateralisasi yang dilewat, dan diagnosis utama yang dipilih tanpa kaidah. Tiga langkah bisa dikerjakan tanpa menunggu regulasi terbit: menguatkan kaidah pemilihan diagnosis utama, mencatat dasar setiap keputusan koding beserta versi aturannya, dan membangun jalur klarifikasi tertulis ke DPJP.
Review regulasi
Konten ini diverifikasi terhadap:
- SE Menteri Kesehatan Nomor HK.02.02/MENKES/936/2025 tentang Uji Coba Nasional Penerapan Indonesian Diagnosis Related Group (iDRG) pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Lanjut yang Bekerja Sama dengan BPJS Kesehatan
- Indonesian Coding Standard (ICS), Kementerian Kesehatan RI — Bab I, struktur kode iDRG
- PMK No. 26 Tahun 2021 tentang Pedoman Indonesian Case Base Groups (INA-CBG) dalam Pelaksanaan Jaminan Kesehatan
- PMK No. 3 Tahun 2023 tentang Standar Tarif Pelayanan Kesehatan dalam Penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan
- List Modifikasi ICD-10 Terbaru (IM) dan List Modifikasi ICD-9-CM Terbaru (IM), Kementerian Kesehatan RI
Disclaimer: konten ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan keputusan koder maupun Verifikator. Rujuk selalu regulasi terbaru dari Kemenkes RI dan BPJS Kesehatan. KoderMedis adalah alat bantu penelusuran administratif Non-SaMD, tanpa koneksi ke E-Klaim maupun sistem BPJS Kesehatan.
Terakhir diperbarui: 12 Oktober 2026
Pembaca artikel ini hampir selalu punya satu kasus konkret yang sedang di mejanya. Halaman Cari Kode gratis dan tanpa login, jadi langkah lanjutannya bisa diambil saat itu juga — hasilnya tetap Anda periksa dan salin sendiri ke aplikasi tempat Anda bekerja.
Lanjutkan membaca
- Kaidah Kode & IMICD-10-IM vs ICD-10 WHO: Apa yang Berubah untuk KoderApa beda ICD-10-IM dan ICD-10 WHO? Struktur kode, lateralisasi HL/NL, kode gigi KG, dagger-asterisk, dan akibatnya pada grouping klaim JKN.Baca artikel
- Klaim & Dispute12 Penyebab Klaim Pending Paling Sering — dan Cara MencegahnyaPending claim bukan klaim tolak. Kenali 12 penyebab tersering, tanda khasnya di E-Klaim, dan langkah pencegahan sebelum berkas dikunci.Baca artikel
- Karier PMIKKoder Medis di Era iDRG: Skill yang Membuat Anda Tak TergantikanApakah koder medis tergantikan teknologi di era iDRG? Peta kompetensi, urutan belajar, jalur sertifikasi, dan cara membuktikan nilai kerja ke manajemen RS.Baca artikel