KoderMedis
FiturCari KodeiDRG ExplorerArtikelHarga
MasukMulai Gratis
FiturCari KodeiDRG ExplorerArtikelHarga
MasukMulai Daftar Gratis
  1. Beranda
  2. Artikel
Kaidah Kode & IM

ICD-10-IM vs ICD-10 WHO: Apa yang Berubah untuk Koder

Apa beda ICD-10-IM dan ICD-10 WHO? Struktur kode, lateralisasi HL/NL, kode gigi KG, dagger-asterisk, dan akibatnya pada grouping klaim JKN.

Tim Redaksi KoderMedis
20 Juni 2026
12 mnt baca

Ringkasan singkat

ICD-10-IM adalah ICD-10 Indonesian Modification, yaitu versi ICD-10 World Health Organization (WHO) yang diperluas Kementerian Kesehatan RI agar mampu merekam detail klinis yang dibutuhkan sistem pembiayaan JKN di Indonesia.

Daftar modifikasi Kementerian Kesehatan RI memuat 1.126 kode ICD-10 IM dan 769 kode ICD-9-CM IM; sebagian besar kode ICD-10 IM berupa penambahan satu karakter pada kode WHO yang sudah ada.

Tiga perubahan paling terasa dalam kerja harian: kode lateralisasi organ berpasangan (seri HL dan NL), kode posisi gigi (seri KG), dan penegakan yang lebih ketat atas pasangan dagger-asterisk beserta penanda accpdx.

Konsekuensinya bukan kosmetik: kode pendamping wajib yang tertinggal — misalnya pemasangan lensa pada operasi katarak — menjatuhkan kasus ke MDC 36 dengan status Ungroupable sehingga tarif tidak terbentuk, dan kode lain yang kurang bisa membuat berkas kembali sebagai pending claim.

ICD-10 WHO tetap menjadi induk kaidah — ICD-10-IM tidak menggantikannya, melainkan menambah cabang pada pohon yang sama.

Apa itu ICD-10-IM dan apa bedanya dengan ICD-10 WHO?

ICD-10-IM adalah ICD-10 Indonesian Modification: klasifikasi yang tetap memakai kerangka, bab, dan kaidah ICD-10 World Health Organization, tetapi ditambahi kode baru oleh Kementerian Kesehatan RI untuk kebutuhan pencatatan dan pembiayaan di Indonesia. Bedanya bukan pada filosofi, melainkan pada kedalaman. Sebagian besar kode IM berbentuk karakter kelima yang ditempelkan pada kode WHO empat karakter yang sudah ada — misalnya A15.11 untuk tuberkulosis paru yang terkonfirmasi pemeriksaan biomolekuler, tingkat kepastian diagnostik yang tidak punya tempat sendiri di ICD-10 WHO. Sisanya berupa kode empat karakter baru yang mengisi slot kosong, seperti A91.0 dan A91.1 yang memecah demam berdarah dengue menjadi dengan syok dan tanpa syok, padahal WHO hanya menyediakan satu kode A91. Untuk koder, konsekuensinya sederhana sekaligus berat: kode yang Anda hafal masih berlaku, tetapi kode itu sering kali bukan lagi kode yang paling spesifik. Perbedaan satu karakter itulah yang kemudian menentukan grup dan tarif.

Perbandingan ICD-10 WHO dan ICD-10-IM dari sudut pandang koder
AspekICD-10 WHOICD-10-IM
Struktur kodeAlfanumerik tiga sampai empat karakter (A91, H25.1)Menambah karakter kelima pada kode empat karakter (A15.11, B18.10) dan mengisi slot empat karakter yang kosong (A91.0, B35.7)
Lateralisasi organ berpasanganTidak disediakan sebagai kode tersendiriKode IM terpisah yang ditempelkan pada diagnosis: seri HL untuk mata dan telinga, seri NL untuk ginjal, ureter, dan kandung kemih
Posisi gigiTidak menyimpan informasi posisi gigi di dalam klasifikasiSeri KG memetakan notasi gigi dua digit menjadi kode: KG11 sampai KG48 untuk gigi tetap, KG51 sampai KG85 untuk gigi sulung
Kode tindakan (ICD-9-CM)Kode empat digit berpola XX.YYICD-9-CM-IM menambah digit kelima: 00.45 menjadi 00.450, 22.20 menjadi 22.200 untuk sinistra dan 22.201 untuk dextra
Jumlah kode modifikasiTidak relevan — menjadi basis, bukan modifikasi1.126 kode ICD-10 IM dan 769 kode ICD-9-CM IM menurut daftar modifikasinya
Akibat pada groupingMenjadi induk kaidah, tetapi tidak dipakai sendirian oleh sistem klaim JKNDipakai grouper iDRG; kode pendamping wajib yang tertinggal — misalnya pemasangan lensa pada operasi katarak — menjatuhkan kasus ke MDC 36 dengan status Ungroupable
Perbandingan ICD-10 WHO dan ICD-10-IM dari sudut pandang koder

Kenapa Indonesia perlu memodifikasi ICD-10 WHO?

Alasannya bermuara pada satu hal: kode yang dirancang untuk statistik dunia ternyata terlalu tumpul untuk dipakai membayar layanan. Pedoman pengodean yang selama ini menjadi rujukan sistem klaim JKN memakai ICD-10 Versi Tahun 2010 sebagai basis, dan versi itu tidak mengenal beberapa kenyataan klinis yang sehari-hari ditangani rumah sakit di Indonesia. Tuberkulosis, misalnya, kini rutin dikonfirmasi lewat pemeriksaan biomolekuler, sementara versi tersebut hanya mengenal konfirmasi bakteriologis dan histologis. Demam berdarah dengue dengan syok dan tanpa syok menghabiskan sumber daya yang jauh berbeda, tetapi keduanya bertemu di satu kode yang sama. Selama dua kondisi yang biayanya berbeda jatuh ke kode yang sama, Grouper tidak punya cara membedakannya, dan tarif yang terbentuk akan meleset untuk kedua pasien sekaligus. Indonesian Modification adalah jawaban administratif atas masalah itu — bukan revisi ilmiah terhadap ICD-10 WHO. Kerangka bab, kaidah inklusi dan eksklusi, serta indeks alfabetis WHO tetap berlaku utuh. Latar transisi yang lebih luas dibahas pada panduan lengkap iDRG untuk koder medis.

Dasar ICD-10 yang dipakai sistem klaim JKN

PMK No. 26 Tahun 2021 tentang Pedoman INA-CBG, Bab III Koding INA-CBG

“ICD-10 Versi Tahun 2010 terdiri dari 3 volume dan 22 bab.”

Berapa banyak kode ICD-10-IM dan ICD-9-CM-IM yang harus dikenali koder?

Daftar modifikasi Kementerian Kesehatan RI — List Modifikasi ICD-10 Terbaru dan List Modifikasi ICD-9-CM Terbaru — memuat 1.126 kode ICD-10 IM dan 769 kode ICD-9-CM IM. Angka itu terdengar besar, tetapi sebarannya tidak merata dan justru di situlah letak kabar baiknya. Penambahan paling padat terkonsentrasi pada beberapa bab saja: penyakit rongga mulut dan sistem cerna, cedera dan keracunan, serta gangguan jiwa dan perilaku. Artinya koder di rumah sakit dengan layanan bedah mulut akan bertemu ratusan kode IM, sementara koder di unit yang jarang menyentuh bab-bab itu mungkin hanya perlu mengenali beberapa lusin. Panduan resmi juga menandai jenis perubahan dengan konvensi warna: merah untuk kode yang benar-benar baru, biru untuk revisi atau tambahan deskripsi inklusi, hijau untuk catatan penjelas. Membaca konvensi itu lebih cepat daripada menyisir daftar kodenya satu per satu. Kode IM pun tidak menghapus kode WHO yang diperluasnya; keduanya hidup berdampingan di dalam kamus.

  • Kode empat karakter baru pada slot kosong — B35.7 Tinea faciei menempati posisi yang tidak terpakai di blok dermatofitosis ICD-10 WHO.
  • Karakter kelima yang mempertajam kode lama — B18.10 memisahkan hepatitis B kronik tanpa agen delta dari B18.19 yang status agen deltanya tidak dijelaskan.
  • Kode yang merekam metode konfirmasi — A15.11 untuk tuberkulosis paru terkonfirmasi pemeriksaan biomolekuler, dan A16.80 untuk infeksi tuberkulosis laten.
  • Kode derajat berat yang sebelumnya menyatu — A91.0 demam berdarah dengue dengan syok dan A91.1 tanpa syok, dua kondisi yang beban perawatannya jauh berbeda.
  • Digit kelima pada kode tindakan — 00.45 menyatakan pemasangan satu stent vaskular, sedangkan 00.450 menyatakan pemasangan satu balon berlapis atau berpelepas obat; perbedaan itu tidak terbaca bila hanya kode empat digitnya yang ditulis.

Bagaimana aturan lateralisasi HL dan NL bekerja?

Lateralisasi pada ICD-10-IM tidak ditulis di dalam kode diagnosis, melainkan sebagai kode terpisah yang ditempelkan sesudahnya. Ini perbedaan mendasar dengan sistem modifikasi lain yang menanam sisi kiri dan kanan langsung ke dalam karakter kodenya. Panduan IM menyediakan dua seri: seri HL untuk organ di kepala dan leher — HL00 mata kanan, HL01 mata kiri, HL04 telinga kanan, HL05 telinga kiri, HL06 telinga bilateral — dan seri NL untuk saluran kemih, yaitu NL11 ginjal kanan, NL12 ginjal kiri, NL13 dan NL14 untuk ureter kanan dan kiri, serta NL15 untuk kandung kemih yang memang organ tunggal. Kode lateralisasi tidak pernah sah berdiri sebagai diagnosis utama; ia hanya sah sebagai penyerta. Karena letaknya di baris terpisah, kode ini juga yang paling gampang lupa ditulis, dan itulah sebabnya ia rutin muncul di daftar temuan pemeriksaan sebelum final. Rujuk selalu versi panduan yang berlaku pada tanggal kasus Anda, karena daftar organ yang diwajibkan masih dapat bertambah.

  • Kode lateralisasi selalu menempel, tidak pernah memimpin. HL01 mengikuti diagnosis pada mata kiri; ia tidak menggantikan diagnosisnya dan tidak bisa berdiri sebagai diagnosis utama.
  • Organ tunggal tetap punya kodenya sendiri. NL15 untuk kandung kemih ada bukan untuk menyatakan sisi, melainkan untuk menegaskan bahwa organ tersebut memang tidak berpasangan.
  • Kasus bilateral punya kode tersendiri. Untuk telinga tersedia HL06; periksa panduan yang berlaku apakah kasus bilateral ditulis dengan kode gabungan itu atau dengan dua kode sisi.
  • Pada kode tindakan, lateralisasi justru menyatu ke dalam kode. ICD-9-CM-IM memakai digit kelima: 22.20 uncinectomy menjadi 22.200 untuk sinistra dan 22.201 untuk dextra, dan pola yang sama berlaku pada 22.41 sinusotomi frontal.

Bagaimana kode gigi KG menandai posisi dan kuadran?

Kode gigi KG bekerja dengan satu aturan yang mudah diingat: awalan KG diikuti notasi gigi dua digit yang sudah dipakai sehari-hari di poli gigi. Digit pertama menyatakan kuadran, digit kedua menyatakan posisi gigi dihitung dari garis tengah. Untuk gigi tetap, kuadran 1 adalah rahang atas kanan (KG11 sampai KG18), kuadran 2 rahang atas kiri (KG21 sampai KG28), kuadran 3 rahang bawah kiri (KG31 sampai KG38), dan kuadran 4 rahang bawah kanan (KG41 sampai KG48). Gigi sulung memakai kuadran 5 sampai 8 dengan lima gigi per kuadran, dari KG51 sampai KG85. Seluruhnya 52 posisi: 32 gigi tetap dan 20 gigi sulung. Karena diagnosis gigi pada ICD-10 WHO tidak menyimpan informasi posisi sama sekali, kode KG inilah satu-satunya cara berkas Anda menyatakan gigi mana yang ditangani. Pada kasus multipel, setiap gigi yang ditangani ditulis kodenya sendiri. Bab penyakit rongga mulut juga termasuk yang paling banyak menerima kode IM baru, jadi wilayah ini layak diperiksa dua kali.

Apa yang berubah pada dagger-asterisk dan aturan accpdx?

Kaidah dagger-asterisk sendiri tidak berubah — yang berubah adalah ketegasan sistem dalam menegakkannya. Kode dagger menandai etiologi atau penyakit yang mendasari, kode asterisk menandai manifestasinya pada organ tertentu, dan pasangan itu harus muncul bersama dengan kode dagger yang memegang posisi diagnosis utama. Pada kamus kode iDRG, kode asterisk ditandai secara eksplisit dan sekaligus ditandai tidak layak menjadi diagnosis utama — penanda inilah yang di lapangan disebut accpdx. Contoh yang paling sering ditemui: E11.2† diabetes melitus tidak tergantung insulin dengan komplikasi ginjal berpasangan dengan N08.3* gangguan glomerulus pada diabetes melitus, atau E11.3† dengan H28.0* katarak diabetik. Bila dokumentasi belum cukup untuk menegakkan diagnosis definitif, jalan keluarnya adalah melengkapi dokumen dan berdiskusi dengan DPJP, bukan memaksakan kode. Pedoman pengodean menyediakan Rule MB1 sampai MB5 sebagai jalur reseleksi diagnosis utama ketika klarifikasi tidak berhasil. Yang paling sering membuat berkas tertahan bukan salah memilih pasangannya, melainkan mengirim kode asterisk sendirian — dan penanda accpdx di kamus kode iDRG menandai kesalahan itu pada kodenya sendiri, bukan lewat penilaian Verifikator.

  • Kode asterisk tidak boleh menjadi diagnosis utama. N08.3*, G63.2*, dan H28.0* semuanya bertanda tidak layak sebagai diagnosis utama di kamus kode iDRG.
  • Kode dagger yang memegang posisi utama. E11.2† untuk komplikasi ginjal dan E11.3† untuk komplikasi mata; manifestasinya menyusul sebagai diagnosis sekunder, bukan sebaliknya.
  • Gejala bukan diagnosis utama bila kondisinya sudah ditegakkan. Rule MB3 mengatur bahwa gejala dari kondisi yang telah didiagnosis dan diobati diganti dengan kondisi yang mendasarinya.
  • Reseleksi bertumpu pada rekam medis, bukan pada bobot grup. Rule MB1 sampai MB5 dipakai untuk memilih ulang diagnosis utama berdasarkan isi dokumen — bila buktinya kurang, yang dilengkapi adalah dokumentasinya, bukan kodenya yang dinaikkan.

Apa akibatnya kalau kode IM salah atau tertinggal?

Akibat paling keras dari kode yang tertinggal adalah berkas jatuh ke MDC 36, kelompok yang namanya sendiri sudah menjelaskan situasinya: Ungroupable. Tidak setiap kode yang kurang berakibat begitu: yang menjatuhkan kasus ke sana adalah edit grouper tertentu — misalnya tindakan yang wajib berpasangan tetapi hanya ditulis salah satu, seperti operasi katarak tanpa kode pemasangan lensa. Ketika itu terjadi, tidak ada grup yang terbentuk, tidak ada tarif yang bisa dihitung, dan berkas kembali ke meja Anda. Akibat lain yang lebih halus adalah berkas tetap terkelompok namun ke grup yang tidak mencerminkan kasusnya, karena detail pembedanya tidak pernah masuk ke sistem. Keduanya berujung sama: pending claim, lalu Dispute bila kesepakatan dengan Verifikator tidak tercapai. Standar tarif pelayanan JKN diatur dalam PMK No. 3 Tahun 2023, sehingga apa pun yang menghalangi terbentuknya kelompok kasus akan langsung terasa di sisi pembayaran. Perbedaan penanganannya juga tegas: berkas Ungroupable diperbaiki dengan melengkapi data, sedangkan berkas yang terkelompok ke grup yang keliru menuntut pembuktian ulang lewat dokumentasi klinis. Pola kegagalan semacam ini diurai lebih rinci pada artikel tentang penyebab klaim pending paling sering dan cara mencegahnya.

Ilustrasi: operasi katarak satu mata yang berkasnya tertahan

Kasus
Pasien dewasa, operasi katarak mata kiri, satu episode rawat. Data ilustratif, bukan kasus pasien nyata.
Diagnosis utama
H25.1 — Senile nuclear cataract
Kode IM lateralisasi
HL01 — mata kiri; tidak diisi pada berkas awal
Tindakan
13.41 — Phacoemulsification and aspiration of cataract
Tindakan penyerta
13.71 — Insertion of intraocular lens prosthesis at time of cataract extraction, one-stage; tidak diisi pada berkas awal
MDC terkait
MDC 12 — Diseases and Disorders of the Eye
Temuan
Lateralisasi kosong, dan pasangan tindakan pemasangan lensa tidak tercatat

Dua hal hilang dari berkas ini, dan keduanya bukan soal salah memilih kode diagnosis. Pertama, H25.1 tidak menyatakan mata mana yang dioperasi karena kode IM lateralisasi HL01 tidak ditempelkan. Kedua, ekstraksi katarak 13.41 tercatat tanpa kode pemasangan lensa intraokular 13.71, padahal panduan menempatkan keduanya sebagai pasangan yang muncul bersama. Kelas temuan seperti ini dikenal sebagai missing code also, dan konsekuensinya bukan tarif yang turun sedikit, melainkan kasus berisiko dilempar ke MDC 36 dengan status Ungroupable — keadaan yang berarti tarif tidak terbentuk sama sekali.

Perbaikannya murah bila ditemukan sebelum berkas difinalkan: tempelkan HL01 sebagai kode penyerta, dan tambahkan 13.71 bila memang lensa dipasang pada tindakan yang sama. Perbaikan yang persis sama menjadi mahal bila baru ketahuan setelah berkas kembali dari Verifikator sebagai pending claim, karena Anda harus menarik rekam medis, menyusun ulang berkas, lalu mengantre lagi di batch berikutnya.

Ilustrasi ini disusun dari kombinasi kode yang valid dan lazim ditemui, bukan salinan keluaran Grouper resmi dan bukan kasus pasien nyata. Status akhir pada kasus Anda ditentukan Grouper E-Klaim menurut versi aturan yang berlaku pada saat berkas diproses.

Standar tarif yang menjadi muara setiap kode

PMK No. 3 Tahun 2023 tentang Standar Tarif JKN

Bagaimana cara memeriksa kode IM sebelum berkas difinalkan?

Pemeriksaan yang paling menghemat waktu bukan mencari kode yang salah, melainkan mencari kode yang tidak ada. Tiga kategori itulah yang paling sering kosong: lateralisasi organ berpasangan, pasangan tindakan yang wajib muncul bersama, dan pasangan dagger-asterisk. Ketiganya bisa ditelusuri dari resume medis tanpa membuka aplikasi apa pun, asalkan Anda tahu apa yang dicari. Urutan yang praktis: mulai dari diagnosis utama, pastikan kodenya memang layak menjadi diagnosis utama, lalu turun ke diagnosis sekunder dan kode tindakan. Setiap kali menemukan diagnosis pada organ berpasangan, tanyakan satu hal: sisi mana. Setiap kali menemukan tindakan yang biasanya berpasangan, tanyakan: mana pasangannya. Pemeriksaan seperti ini menambah beberapa menit per berkas, tetapi menggantikan hari-hari yang hilang ketika berkas kembali sebagai pending claim. Kompetensi membaca kaidah IM juga makin sering diuji di seleksi kerja, penilaian internal tim Casemix, maupun forum profesi seperti PORMIKI, seperti dibahas pada artikel tentang skill koder medis di era iDRG.

  1. Periksa apakah kode diagnosis utama memang layak menempati posisi itu — kode manifestasi bertanda asterisk dan kode gejala tidak berdiri sendiri di sana.
  2. Untuk setiap diagnosis pada mata, telinga, ginjal, atau ureter, pastikan kode seri HL atau NL yang sesuai sudah ditempelkan sebagai kode penyerta.
  3. Untuk kasus gigi, pastikan setiap gigi yang ditangani punya kode KG-nya sendiri, dan kuadrannya cocok dengan catatan pemeriksaan.
  4. Telusuri apakah ada kode yang lebih spesifik pada tingkat karakter kelima sebelum menetap pada kode empat karakter warisan ICD-10 WHO.
  5. Untuk tindakan, periksa apakah versi ICD-9-CM-IM berdigit lima tersedia dan apakah pasangan tindakan yang wajib muncul bersama sudah lengkap.
  6. Catat versi panduan yang Anda pakai beserta tanggalnya, supaya keputusan hari ini tetap bisa dijelaskan bila diaudit beberapa tahun kemudian.

Yang paling sering menahan berkas bukan kode yang keliru, melainkan kode yang tidak pernah ditulis.

— Prinsip kerja pemeriksaan sebelum final

Ringkasan untuk koder

  • ICD-10-IM adalah perluasan ICD-10 WHO, bukan penggantinya: bab, kaidah inklusi dan eksklusi, serta indeks alfabetis WHO tetap berlaku.
  • Sebagian besar kode IM berupa karakter kelima pada kode WHO yang sudah ada; sisanya kode empat karakter baru yang mengisi slot kosong.
  • Lateralisasi ditulis sebagai kode terpisah yang ditempelkan — seri HL untuk mata dan telinga, seri NL untuk ginjal, ureter, dan kandung kemih.
  • Posisi gigi dinyatakan lewat seri KG mengikuti notasi dua digit: KG11 sampai KG48 untuk gigi tetap, KG51 sampai KG85 untuk gigi sulung.
  • Pada kode tindakan, ICD-9-CM-IM menambah digit kelima; di situlah sisi kiri dan kanan serta detail alat sering tersembunyi.
  • Kode asterisk tidak pernah sah sebagai diagnosis utama; pasangannya, kode dagger, yang memegang posisi tersebut.
  • Tindakan wajib berpasangan yang hanya ditulis salah satu — misalnya operasi katarak tanpa kode pemasangan lensa — menjatuhkan kasus ke MDC 36 dengan status Ungroupable; kode lain yang kurang bisa membuat berkas kembali sebagai pending claim, yang penyelesaiannya bisa berlanjut ke Dispute.
  • Rujuk selalu versi panduan ICD-10-IM dan ICD-9-CM-IM yang berlaku pada tanggal kasus Anda; daftar modifikasi masih bergerak dan berada dalam masa transisi.

Oleh: Tim Redaksi KoderMedis — Redaksi konten koding klaim JKN

Disusun dari dokumen publik Kemenkes, BPJS Kesehatan, dan panduan ICD-10-IM/ICD-9-CM-IM

Belum ditinjau koder bersertifikat independen

Artikel ini disusun tim redaksi dari dokumen publik. Untuk kasus yang Anda tangani, verifikasi selalu ke regulasi yang berlaku pada tanggal kasus tersebut. Pemeriksaan redaksi terakhir: 19 Agustus 2026.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah ICD-10-IM menggantikan ICD-10 WHO?
Tidak. ICD-10-IM adalah ICD-10 Indonesian Modification, yaitu perluasan atas ICD-10 World Health Organization yang tetap memakai kerangka bab, kaidah inklusi dan eksklusi, serta indeks alfabetis yang sama. Yang ditambahkan adalah kode yang lebih spesifik untuk kebutuhan pencatatan dan pembiayaan di Indonesia. Kode WHO yang lama tetap ada di kamus dan tetap dipakai bila memang itu kode yang paling tepat untuk kasusnya.
Berapa jumlah kode ICD-10-IM dan ICD-9-CM-IM?
Daftar modifikasi Kementerian Kesehatan RI memuat 1.126 kode ICD-10 IM dan 769 kode ICD-9-CM IM. Sebarannya tidak merata: penambahan paling padat ada pada bab penyakit rongga mulut dan sistem cerna, bab cedera, serta bab gangguan jiwa dan perilaku. Karena daftar ini masih bergerak dalam masa transisi, periksa versi panduan yang berlaku pada tanggal kasus Anda.
Apa fungsi kode HL, NL, dan KG pada ICD-10-IM?
Ketiganya adalah kode penyerta yang menyatakan lokasi, bukan diagnosis. Seri HL menandai sisi organ di kepala dan leher, misalnya HL00 untuk mata kanan dan HL05 untuk telinga kiri; seri NL menandai organ saluran kemih, misalnya NL11 untuk ginjal kanan; seri KG menandai posisi gigi mengikuti notasi dua digit, misalnya KG36 untuk molar pertama rahang bawah kiri. Tidak satu pun dari ketiganya boleh berdiri sebagai diagnosis utama.
Kenapa berkas bisa berstatus ungroupable padahal kode diagnosisnya sudah benar?
Karena Grouper tidak hanya membaca kode diagnosis, tetapi juga kelengkapan kode penyerta dan kecocokan antar-kode. Berkas dengan diagnosis yang tepat masih bisa jatuh ke MDC 36 bila tindakan yang wajib berpasangan hanya ditulis salah satu, atau bila kode diagnosis tidak cocok dengan jenis kelamin atau umur pasien. Kode lateralisasi dan pasangan dagger-asterisk tetap wajib dilengkapi, karena keduanya bagian dari kaidah pengodean. Perbaikannya hampir selalu berupa menambahkan yang kurang, bukan mengganti kode yang sudah benar.
Apakah KoderMedis bisa mengirim kode langsung ke E-Klaim atau VClaim?
Tidak. KoderMedis adalah alat bantu penelusuran administratif Non-SaMD dan tidak terhubung ke E-Klaim, VClaim, maupun sistem BPJS Kesehatan mana pun. Aksi terakhir di dalam produk adalah menyalin hasil; yang menempelkan, memutuskan, dan bertanggung jawab atas berkas tetap Anda sebagai koder.

Review regulasi

Konten ini diverifikasi terhadap:

  • PMK No. 26 Tahun 2021 tentang Pedoman INA-CBG, Bab III Koding INA-CBG
  • PMK No. 3 Tahun 2023 tentang Standar Tarif JKN
  • Panduan ICD-10 Indonesian Modification (ICD-10-IM), Kementerian Kesehatan RI
  • Panduan ICD-9-CM Indonesian Modification (ICD-9-CM-IM), Kementerian Kesehatan RI
  • ICD-10 Versi Tahun 2010 Volume 1 sampai 3, World Health Organization

Disclaimer: konten ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan keputusan koder maupun Verifikator. Rujuk selalu regulasi terbaru dari Kemenkes RI dan BPJS Kesehatan. KoderMedis adalah alat bantu penelusuran administratif Non-SaMD, tanpa koneksi ke E-Klaim maupun sistem BPJS Kesehatan.

Terakhir diperbarui: 12 Oktober 2026

Cari Kode

Artikel ini menyebut banyak kode IM. Halaman Cari Kode menerjemahkan singkatan, istilah awam, dan varian ejaan ke istilah formal beserta kode ICD yang dipetakan, terbuka tanpa login; yang dicari di sana istilahnya, bukan nomor kodenya. Hasilnya adalah bahan pertimbangan; keputusan kode tetap ada pada Anda.

Lanjutkan membaca

  • Memahami iDRGiDRG Adalah: Panduan Lengkap untuk Koder MedisApa itu iDRG, apa bedanya dengan INA-CBG, dan apa yang berubah untuk koder? Panduan struktur kode, MDC, dan Complexity Level digit ke-7.Baca artikel
  • Klaim & Dispute12 Penyebab Klaim Pending Paling Sering — dan Cara MencegahnyaPending claim bukan klaim tolak. Kenali 12 penyebab tersering, tanda khasnya di E-Klaim, dan langkah pencegahan sebelum berkas dikunci.Baca artikel
  • Karier PMIKKoder Medis di Era iDRG: Skill yang Membuat Anda Tak TergantikanApakah koder medis tergantikan teknologi di era iDRG? Peta kompetensi, urutan belajar, jalur sertifikasi, dan cara membuktikan nilai kerja ke manajemen RS.Baca artikel
KoderMedis

KoderMedis adalah aplikasi independen dan tidak terafiliasi dengan BPJS Kesehatan maupun Kementerian Kesehatan RI. Seluruh rekomendasi bersifat administratif dan bukan saran medis (Non-SaMD).

Produk

  • Fitur Utama
  • iDRG
  • Cari Kode
  • iDRG Explorer
  • Harga
  • Artikel

Legal & Bantuan

  • Kebijakan Privasi
  • Syarat Penggunaan
  • Tentang Kami
  • Disclaimer
  • FAQ
  • Kontak: halo@kodermedis.id

Master kode ICD-10-IM dan ICD-9-CM-IM berdasarkan Code System iDRG yang dirilis Kementerian Kesehatan RI melalui kanal resmi. Kamus padanan istilah, kamus singkatan, dan rekomendasi konteks adalah hasil augmentasi tim KoderMedis.

Kode dan judul ICD-10: International Classification of Diseases Tenth Revision (ICD-10), Sixth Edition, 2019. Geneva: World Health Organization; 2019. License: CC BY-ND 3.0 IGO. KoderMedis tidak berafiliasi dengan WHO dan tidak didukung oleh WHO.

© 2025–2026 KoderMedis oleh PT Vitalog Digital Nusantara.